Pengaruh
Teman Bergaul
Oleh : Kyai Boonk
Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah
mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan
sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang
akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar
akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.
Pengaruh Teman Bagi
Seseorang
Banyak orang yang terjerumus ke dalam
lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek.
Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan
disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman
dalam sabda beliau :
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ
كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ
يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ
رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا
أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan
teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.
Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa
membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau
harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai
pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak
sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Perintah Untuk
Mencari Teman yang Baik dan Menjauhi Teman yang Jelek
Imam Muslim rahimahullah mencantumkan
hadits di atas dalam Bab : Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan
Menjauhi Teman yang Buruk”. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam
hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak
wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga
menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki
akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat
larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang
mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227)
Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan
: “Hadits di ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat
merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar
bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan
dunia.”( Fathul Bari 4/324)
Manfaat Berteman
dengan Orang yang Baik
Hadits di atas mengandung faedah
bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang
kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh
kebaikan dari yang dilakukan teman kita.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’adi rahimahullah menjelaskan
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan pertemanan
dengan dua contoh (yakni penjual minyak wangi dan seorang pandai besi). Bergaul
bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti
penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak
wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau
minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan
dari bau harum minyak wangi tersebut. Kebaikan yang akan diperoleh seorang
hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama
daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal
yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia
juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Di juga senantiasa
memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua,
menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga
mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun
bersikap. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya
dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik
dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.
Jika kita tidak mendapatkan
kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman
dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari
perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga
dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan
kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun
tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu,
baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan
membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan
kecintaanya kepadamu. (Bahjatu Quluubil Abrar, 148)
Mudharat Berteman
dengan Orang yang Jelek
Sebaliknya, bergaul dengan teman yang
buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek
atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita. Syaikh As Sa’di rahimahulah juga
menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang
sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang
berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang
yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab
keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti
sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh
karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba
yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya,
hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu
Qulubil Abrar, 185)
Kebaikan Seseorang
Bisa Dilihat Dari Temannya
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan
buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah
hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan
agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman
dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Jangan Sampai
Menyesal di Akhirat
Memilih teman yang jelek akan
menyebakan rusak agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat
nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan
kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Renungkanlah firman Allah berikut :
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى
لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ
بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“ Dan ingatlah ketika
orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku
dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku
tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan
aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak
mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)
Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.
Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.
Sifat Teman yang
Baik
Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata
:
وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس
خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا
“ Secara umum, hendaknya
orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang
yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah,
dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).
Kemudian beliau menjelaskan : “Akal
merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh.
Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah
mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang
memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau
tatkala dia menjelaskan kepada orang ain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak
yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah
dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya.
Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang
yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau
tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah,
dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya. (Mukhtashor
Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)
Hendaknya Orang Tua
Memantau Pergaulan Anaknya
Kewajiban bagi orang tua adalah
mendidik anak-anaknya. Termasuk dalam hal ini memantau pergaulan anak-anaknya.
Betapa banyak anak yang sudah mendapat pendidikan yang bagus dari orang tuanya,
namun dirusak oleh pergaulan yang buruk dari teman-temannya. Hendaknya orangtua
memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya, karena setap orang tua
adalah pemimpin bagikeluarganya, dan setiap pemimpin kan dimintai
pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Allah Ta’ala juga
berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُون
“Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganyamalaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan “ (At Tahrim:6).
Semoga Allah Ta’ala senantiasa
menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan
mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Wallahul musta’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar